Tapanuli Selatan, Sumatera Utara — Bencana banjir bandang disertai tanah longsor melanda Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada akhir November 2025. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi paling serius di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur kawasan hulu Sungai Batang Toru.
Air bah yang datang secara tiba-tiba membawa material lumpur, kayu, dan batu dari daerah perbukitan, menghantam permukiman warga dan infrastruktur di sejumlah desa. Dampaknya, puluhan warga dilaporkan meninggal dunia, sementara banyak lainnya mengalami luka-luka dan kehilangan tempat tinggal.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, jumlah korban jiwa di Kabupaten Tapanuli Selatan, termasuk wilayah Batang Toru, mencapai sekitar 80 orang. Sementara itu, secara keseluruhan di Pulau Sumatera, korban meninggal akibat rangkaian bencana banjir dan longsor pada periode yang sama dilaporkan mencapai lebih dari 900 hingga 1.000 jiwa dalam berbagai pembaruan data resmi.
Selain korban jiwa, ribuan warga terpaksa mengungsi akibat rumah yang rusak atau tidak lagi layak huni. Kerusakan juga meliputi infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, serta fasilitas umum yang menghambat mobilitas dan distribusi bantuan pada masa tanggap darurat.
Sejumlah desa di Kecamatan Batang Toru menjadi wilayah terdampak paling parah, di antaranya Desa Garoga (Aek Garoga), Batuhula, serta kawasan permukiman di sepanjang aliran Sungai Batang Toru. Selain itu, dampak bencana juga meluas ke beberapa kecamatan lain di Kabupaten Tapanuli Selatan seperti Angkola Sangkunur, Sukabangun, dan Aloban Bair.
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri segera melakukan upaya penanganan darurat. Evakuasi korban, pencarian warga yang hilang, serta pendirian posko pengungsian dan dapur umum menjadi prioritas utama pada hari-hari awal kejadian.
Dalam tahap bantuan kemanusiaan, pemerintah juga menyalurkan berbagai kebutuhan dasar bagi para pengungsi, termasuk tenda darurat, logistik, serta perlengkapan penunjang lainnya. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tercatat menyalurkan ratusan unit tenda untuk membantu warga terdampak, khususnya di wilayah yang mengalami kerusakan terparah.
Memasuki tahap pemulihan, pemerintah mulai melakukan normalisasi Sungai Batang Toru guna mencegah terjadinya banjir susulan. Selain itu, pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak terus dipercepat sebagai solusi jangka pendek sebelum pembangunan hunian tetap direalisasikan.
Para ahli menilai bahwa selain faktor curah hujan tinggi, kerusakan lingkungan di kawasan hulu turut memperparah dampak bencana. Berkurangnya tutupan hutan dan alih fungsi lahan menyebabkan menurunnya daya serap tanah terhadap air, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang dan longsor.
Bencana ini menjadi pengingat penting akan perlunya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, khususnya di daerah aliran sungai. Hingga saat ini, proses pemulihan di wilayah terdampak masih terus berlangsung dan diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
By : Rahmat Husein Nasution